Skip to main content

Posts

Fenomena Peterporn dan Falsafah Waktu*)

Oleh: Bahauddin Amyasi

Jika Edmund Husserl, pendiri filsafat fenomenologi itu mengatakan bahwa esensi waktu adalah kesadaran dan esensi kesadaran adalah waktu, maka sesungguhnya kita tak pernah benar-benar memiliki kekuatan kolektif
untuk selalu belajar pada waktu, apalagi untuk membangun ingatan kita tentang masa lalu. Memori kita seolah hidup dalam ritme tik-tok arloji yang selalu bergerak ke depan, tak pernah berputar arah. Hidup ala arloji mengandaikan apa yang ditinggalkan memang tak dilupakan, tapi sengaja ditinggalkan. Masa lalu masih ada, namun tak penting untuk selalu dibaca. Karena kita hidup dengan “pola pikir” arloji, maka kita kerap tak mampu menyimpan memori.

Ideologi arloji, hari-hari ini bisa kita temukan konteks pemaknaannya dalam kasus Ariel-Luna Maya- Cut Tari. Gambar pornoaksi mereka kini jadi menu hangat berbagai media, baik cetak maupun online. Di blog-blog, situs jejaring sosial, hampir semuanya membicarakan aksi heboh mereka yang meruncing menjadi objek diskusi, …
Recent posts

Perempuan yang Kekalkan Hujan

kau yang kekalkan hujan 
di matamu
sesekali melumuriku dengan hening yang gigil
tapi bukankah tandus jantunggku selalu 
merindukan gerimis, 
atau juga tangis?
/1/
cantik, masih ingat engkau tentang percakapan puisi kita? hari ini, membaca lagi nubuat hari-harimu, mengingatkan kembali pada kegagahanku dulu; waktu dimana tuhan telah mengalirkan seluruh kekuatannya pada rapal mantraku, hingga demikian lugas kuungkapkan betapa aku kangen kamu, sayang kamu, dan ingin –suatu waktu– menikmati malam dan hujan dalam rerimbun matamu.

/2/
aku takjub dengan seluruh kegaiban musim, cantik, karena dari rahimnya rindu terlahir sebagai kemarau. dan dadaku adalah kerontang yang pasti merindukan hujan bukan? tidak cantik, engkaulah hujan yang tak kenal musim. aku hanya rindu pecahan nafasmu menjadi arus dalam darahku, sebagai detak dalam jantungku. aku butuh hujan di matamu, lebih dari kering kemarau di mana pun..

/3/
tapi kita hanya bisa bersisihan, sayang. saling pandang. kita i'tikafkan saja rindu pada …

Karena Hidup Adalah Membunuh!

"Sejak kecil aku paham bahwa hidup itu perlombaan. Jika kau tak cekatan, orang lain akan merebut peluang. Untuk lahir saja, kita harus mengalahkan lebih dari 300 juta sperma lain..."




Suatu hari, dengan langkah tegap dan sedikit arogan Rektor ICE (Imperial College of Engineering) berjalan menuju halaman kampus prestius itu. "Ini apa?" Tanyanya sembari memandang seluruh mahasiswa dengan nada menggelegar.

"Sarang, Pak!"

"Sarang siapa?"

"Sarang burung Cuckoo.."

Sang Rektor berhenti sejenak, menarik nafas.

"Burung Cuckoo tidak pernah membuat sarangnya sendiri. Mereka menaruh telur di sarang burung lain. Dan ketika anak mereka menetas...," Virus berhenti lagi, seolah sengaja menghentikan ucapannya. Lalu memandang ke seluruh mahasiswa. "Apa yang mereka lakukan pertama kali?", tanyanya kemudian, mantap.

"Mereka menendang telur lain dari sarang. Pecah! Kompetisi berakhir..."
Mahasiswa terkejut, terheny…

Doa Sunyi Seorang Ibu

Kalau aku merantau/ Lalu datang musim kemarau/ Sumur-sumur kering/ Dedaunan pun gugur bersama reranting/ Hanya mata air air matamu ibu/ Yang tetap lancar mengalir
-- dalam puisi Ibu, D. Zawawi Imron --
Hampir setiap kali saya berjumpa dengan D.Zawawi Imron, si Celurit Emas kelahiran Sumenep, Madura itu dalam banyak pertemuan, baik dalam forum kepenulisan, lokakarya maupun serasehan budaya, beliau selalu diminta peserta dan panitia untuk membacakan salah satu puisinya. Dan "anehnya", puisi yang dibacakan selalu sama, yakni berjudul IBU. Meski tak semagis penghayatan Mas Ivan Kavalera ketika membacakan puisi di program sastra SEMBILU RCA 102,5 FM Bulukumba, tapi sungguh puisi Ibu yang didemonstrasikan beliau benar-benar menggetarkan dinding kesadaran pendengarnya, paling tidak untuk saya sendiri sebagai peserta.

Tentu ada argumentasi tersendiri kenapa Ibu menjadi bagian paling penting dari sisi kepenyairan seorang Zawawi, pikir saya waktu itu. Diksi Ibu seolah menjadi spirit pa…

Belajar pada Psikologi Dusta

Ada hal menarik yang barangkali patut kita renungkan dari sisi esoteris kehidupan manusia, yakni psikologi dusta. Dalam diskursus psikoanalisa Sigmund Frued, seorang filsuf Jerman teremuka, manusia memang memiliki alter ego, yang divisualisasikan dengan ”wajah bertopeng” dan mampu berubah-rubah seperti Bunglon sesuai dengan konteks afiliasinya.



Lalu apa hubungan antara psikologi dusta dengan kontes pre-review yang diselenggarakan oleh Clara Canceriana, penulis produktif yang sebagian karyanya dituangkan dalam blognya? Baiklah. Mari sejenak kita hayati dengan penuh kejujuran, dengan fokus pikiran pada topik kita kali ini dengan menjawab satu pertanyaan yang kita ajukan untuk diri sendiri; apa yang menyebabkan kita suka (bahkan kalau membaca Kho Ping Hoo, saya kuat semalam suntuk!) membaca novel, cerpen, atau tulisan dengan bentuk fiksi yang memang nyata-nyata fiktif alias racikan imajinasi belaka?


Barangkali karya sastra akan tetap dibaca masyarakat , betapapun itu bukanlah hal yang nyat…

Jangan Panggil Aku Neng!

Kusampaikan permohonan maafku kepadamu, karena barangkali kau tak berkenan bila aku tuliskan percik perjalanan hidupmu. Kisah dengan nalar dan narasi yang mungkin bagi sebagain orang tak mudah dipahami, atau lalu memandangnya dengan penuh ironi. Tapi bagiku, dan mungkin juga bagimu, betapapun pahitnya sebuah perjalanan, ia tetap tak akan pernah tergantikan. Maka harusnya kau tak perlu menyesal untuk selalu mengenang tiap derap dan jengkalnya dengan penuh penghayatan.
Atau biarlah kita berpikir bahwa segalanya telah ada pada Qada’ yang berjanji, dan biarlah Qadar yang menepati. Sebuah janji sunyi, pada kerikil air matamu yang pecah berkali-kali...

Dari Sahabatmu...

# # #

Menjadi sahabatnya, sungguh tak pernah terlintas sedikitpun di kepalaku. Mengenalnya saja bagaikan membentur dinding kemustahilan. Bagaimana mungkin aku yang masih lugu dan culun berusaha untuk sedikit tahu tentang dirinya yang bintang. Ya, sebut saja dia Bintang, yang meski hanya pendar, tapi ia begitu menyejukkan. Be…

Cerita Tengtang Rakyat yang Suka Bertanya

"Karya yang bagus adalah karya yang menggema di hati manusia. Jika ingin membuat karya yang baik, maka buatlah karya yang menggema bagi manusia lainnya..."

Petikan kalimat di atas adalah diktum sastrawan dan Guru Besar Emiritus UNESA (Universitas Negeri Surabaya), Prof. Budi Darma, ketika menjawab pertanyaan saya tentang patokan nilai karya sastra yang baik. Pertanyaan itu saya lontarkan pada acara Diskusi dan Launching "Kumpulan Cerita Pendek; Cerita Tentang Rakyat yang Suka Bertanya", Selasa (18/05/10) kemarin di ruang sidang Rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sebelumnya, saat sesi penyampaian materi, beliau memaparkan secara detail bagaimana sebuah proses kreatifitas kepenulisan sejatinya telah mampu menjadi tolak ukur kebesaran seseorang. "Kebesaran seseorang dapat dilihat dari karya tulisnya. Jika kita ingin jadi orang besar, maka menulislah", ujarnya kepada peserta, dengan semangat yang berkobar.

Acara yang diselenggarakan oleh DEMOS (Lembaga Kaj…